KH. Zainal adalah seorang ulama asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia gugur ketika melakukan pemberontakan pada masa pendudukan Jepang. pemerintah Ri mengangkatnya sebagai pahlawan nasional pada 6 November 1972 melalui surat keputusan presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972. KH Zainal Mustafa lahir di Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya. orang tua nya bernama Nawapi dan Ny. Ratmah. Sewaktu kecil, ia diberi nama Umri dan sepulang dari pesantren ia berganti nama menjadi Hudaemi. Selain memperoleh pendidikan formal di sekolah rakyat, ia belajar agama dari berbagai pesantren di Jawa Barat yang membuatnya memiliki pengetahuan agaa yang luas dan mahir berbahasa Arab.
Diantaranya, Pesantren Gunung Pari, selama 7 tahun.
Pesantren Cilenga Singaparna, selama 3 tahun.
Pesantren Sukaraja, Garut selama 3 tahun.
Pesantren Sukamiskin Bandung selama 3 tahun.
Pesantren Jamanis selama 1 tahun.
Zainal Mustafa merupakan kiai muda yang berjiwa revolusioner. Ia menganut paham pendidikan yang sifatnya "Non Cooperation", tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Secara terang-terangan ia mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. melalui Khutbah-khutbahnya ia selalu menyerang kebijakan politik kelonial Belanda. Akibatnya pada 17 November 1941, Kh. Zaenal Mustafa bersama Kiai Rukhiyat (dari pesantren Cipasung), haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap pemerintah dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Baru bebas pada 10 Januari 1942, namun sebulan kemudian ditangkap lagi bersama Kiai Rukhiyat atas tuduhan yang sama dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Pernah dalam suatu upacara di lapangan Singaparna, para
peserta yang diundang termasuk KH Zainal Mustafa dipaksa untuk melakukan seikerei dibawah
todongan senjata Jepang. Semua peserta upacara tidak kuasa menolak karena nyawa
yang terancam. Namun K.H. Zainal Mustafa dengan tegas menolak dan tetap duduk
dengan tenang. Akibat perbuatan tersebut telah menimbulkan ketegangan antara
penguasa Jepang dengan K.H. Zainal Mustafa serta para pengikutnya. Persiapan para santri ini tercium Jepang hingga mereka
mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa
anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil, bahkan
mereka ditahan di rumah KH Zainal Mustafa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi
tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.
Peristiwa ini merupakan awal dari peristiwa bersejarah yaitu perlawanan terbuka santri Pesantren Sukamanah yang mengakibatkan gugurnya puluhan santri Sukamanah. Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.
KH. Zainal Mustafa Wafat pada tanggal 25 Oktober 1944 dan di makamkan di taman makam pahlawan Belanda Ancol, jakarta. pada tanggal 25 Agustus 1973, makam itu dipindahkan ke Sukamana, Tasikmalaya. Sekarang nama KH Zainal Mustafa dijadikan salah satu nama jalan di kota Tasikmalaya.
Peristiwa ini merupakan awal dari peristiwa bersejarah yaitu perlawanan terbuka santri Pesantren Sukamanah yang mengakibatkan gugurnya puluhan santri Sukamanah. Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.
KH. Zainal Mustafa Wafat pada tanggal 25 Oktober 1944 dan di makamkan di taman makam pahlawan Belanda Ancol, jakarta. pada tanggal 25 Agustus 1973, makam itu dipindahkan ke Sukamana, Tasikmalaya. Sekarang nama KH Zainal Mustafa dijadikan salah satu nama jalan di kota Tasikmalaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar